hayat.mansur

Just another WordPress.com weblog

Skandal Beras dan Daging Membuat Partai Makin Gemuk

Posted by hayat mansur on December 16, 2006

Di penghujung akhir tahun ini, masyarakat kembali diguncang dengan kenaikan harga beras dan juga daging. Ahli ekonomi dari UI Faisal Basri menilai lonjakan harga beras dan daging bukan semata faktor produksi. Tapi itu merupakan skandal yang akan membuat partai-partai termasuk politisi makin gemuk. Kantor InterMatrix Jumat pagi (15/12) begitu meriah. Kita kedatangan ahli ekonomi Faisal Basri untuk wawancara Perspektif Baru. Hadir pula sahabat lama Martin Manurung, Miss Sumatera Utara Marsha Siagian, dan wartawan Batak Pos Iskandar yang janji wawancara dengan Wimar Witoelar.

Anda tentu sudah tahu Faisal Basri kini sedang mencoba maju menjadi calon gubernur. Tapi bukan dalam rangka itu kami bertemu. Faisal diundang menjadi narasumber tamu membahas Outlook Economy 2007 untuk wawancara perspektif baru (PB) yang kami tangani. Hasil wawancara ini nanti bisa dilihat di situs http://www.perspektifbaru.com

Walau wawancara PB antara Wimar dan Faisal telah selesai, tapi perbincangan mengenai masalah ekonomi terus berlanjut, terutama mengenai masalah ekonomi di Indonesia saat ini dan pengaruhnya pada tahun depan.

Menurut Faisal, tahun depan 2007 karena mendekati tahun kampanye maka partai-partai tentu membutuhkan logistik yang cukup banyak. Karena itu potensi yang menjadi skandal adalah proyek-proyek yang berkaitan dengan dengan negara. Misalnya, proyek-proyek infrastruktur dan pengadaan-pengadaan pangan.

Untuk pangan, lanjut Faisal, perlu juga diwaspadai adanya laporan mengenai kemungkian besar akan terjadi El nino sehingga membuat musim kemarau akan makin lebih panjang dari 2006. Karena itu diperkirakan kebutuhan impor beras Indonesia mengarah setengah juta ton. Adanya disparitas harga dalam dan luar negeri maka jumlah impor 500 ribu ton itu maka dengan mengambil Rp 100 per kilogram saja sudah bisa menghasilkan nilai yang besar untuk masuk kantong.

Selain beras, daging juga akan makin menjadi kontraversi karena perkembangan produksi daging kita jauh lebih lambat dibandingkan tingkat konsumsi yang terus naik. Daging ini lebih eksotik lagi karena harga daging dari India Rp 18 ribu/kg sedangkan di domestik Rp 40 ribu/kg.

Itu semua bisa berpotensi dinikmati tidak hanya oleh partai-partai yang dominan yaitu yang pada Pemilu lalu nomor 1, 2, dan 3 tapi juga partai lain. Apalagi terlihat kecenderungan untuk bagi-bagi konsensi. Misalnya, partai ini mendapatkan daging, sedangkan partai itu mendapatkan beras. Kalau melihat kompromi yang terjadi di DPR terlihat pola seperti itu.

Coba lihat saja kini Menteri Pertanian (Mentan) tidak ngotot lagi impor beras seperti tahun lalu. Ini salah satu indikasi yang kuat. Mentan juga ngotot mengizinkan impor daging dari daerah yang tidak bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) termasuk dari India. “Saya tidak mau menuduh tapi perubahan perilaku itu harus bisa dijelaskan,” tegas Faisal.

“Kalau begitu siapa aktor yang mengatur itu semua karena kalau dulu Presiden Soeharto, dan kini dimana pusat pengaturannya?” tanya Wimar.

Jawab Faisal, kini simpul-simpul itu telah terderifikasi tapi ada kartelnya yang sangat terkordinasi termasuk di DPR. PDI Perjuangan sebagai partai oposisi sudah tentu tidak kebagian konsesi yang besar tersebut tapi Faisal menyatakan tidak tahu apakah anggota DPR dari PDIP secara individu-individu mendapatkannya karena kartel itu bersifat lintas fraksi.

Guna mencegah skandal tersebut terus berlanjut, Faisal meminta siapa saja mengupayakan agar semua yang berbau skandal diungkap ke publik. Itu yang paling penting dulu karena ketentuan mengenai boleh impor daging dari daerah bebas PMK baru ketahuan belakangan setelah surat itu dibuat. Tapi ada kesan mereka lebih takut setelah itu terungkap.

Lalu bagaimana nasib rakyat bila skandal tersebut tetap terjadi pada 2007? Faisal melihat rakyat masih akan tetap bisa hidup di dunia ini. Itu karena komponen projek kepentingan negara itu hanya 17% dari konsumsi pemerintah dari total Rp 3.500 triliun. Jadi kalau 17% itu, misalnya, diambil semua oleh limbah B3 yaitu Bakrie, Bukaka, dan Bosowa, rakyat masih cukup punya rezeki untuk hidup di dunia ini. Namun bagi kelompok itu tentu tidak cukup walaupun semua 17% dikasih ke mereka karena orang tamak tidak akan pernah cukup.

Advertisements

3 Responses to “Skandal Beras dan Daging Membuat Partai Makin Gemuk”

  1. ww said

    baca posting Perspektif Online berdasarkan tulisan ini.

  2. Livette said

    Nice blog!

  3. aan said

    mampir ya kesini

    trisr06.student.ipb.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: